I. Mukaddimah

Pada awalnya adalah sebuah keprihatinan. Begitu Pesantren Modern Immim menammatkan alumni pertamanya tahun 1980. Dari 20 alumnus putra, 7 ornag alumnus diantaranya, Chaeruddin SB, Indra Jaya Mansyur, Amir Mahmud, M. Ansar Ilyas, Zainal Abidin, Muh. Thamsir Mustakim, M Nur Anugrawan, berkumpul dirumah M. Anshar Ilyas di Jl. Cendrawasih Ujungpandang menyatukan pemiukiran dan pendapat dari sebuah pertanyaan : “Dimana lagi bisa kita bertemu dan berkumpul setelah tamat di Pesantren”.
Dari pertanyaan itu, muncul ide dari M. Anshar Ilyas dan di sepakati keenam rekan lainnya untuk membentuk organisasi yang kelak akan menghimpun para alumnus-alumnus Pesantren Immim putra-putri ini. Pemikiran mereka jauh kedepan bahwa, kelak Pesantren Immim mempunyai ribuan alumnus yang tentunya perlu ada wadah untuk menghimpun mereka, agar para alumnusnya tidak kocar-kacir setelah menammatkan studinya di Pesantren Immim.
Setelah menyatukan pikiran dan pendapat, Ke-7 alumnus terbaik ini menemui Bapak H. Fadeli Luran (almarhum) selaku ketua Yasdic IMMIM dan pendiri pesantren IMMIM putra-putri ini dikediamannya Jl. Lanto Dg. Pasewang Ujungpandang, guna menyampaikan rencana pendirian sebuah organisasi yang akan menghimpun para alumnus-alumnus Pesantren IMMIM putra-putri itu, dengan sebuah Ikatan Alumni Pesantren IMMIM disingkat IAPI.
Bapak H. Fadeli Luran menyambut baik pendirian IAPI itu. Dan berharap agar IAPI tidak sekedar menghimpun para alumnus Pesantren IMMIM, melainkan punya nilai strategis untuk menggalang dan menyatukan ummat dna sekaligus para alumni Pesantren IMMIM ikut peka terhadap masalah-masalah yang tengah dan akan dihadapi bangsa di masa depan, khususnya yang ada kaitannya dengan keagamaan dan kemasyarakatan.

II. FASE PEMBENTUKAN PENGURUS IAPIM

Melalui rapat bersama pada tanggal 10 September 1981 yang dihadiri sejumlah alumnus Pesantren IMMIM putra-putri, muncul kesepakatan untuk memilih Chaeruddin, SB sebagai Ketua Umum dan Indra Jaya Mansyur sebagai Sekretaris Umumnya, untuk masa bhakti 1981-1983.
Pada rapat bersama itu, disepakati maksud dan tujuan pendirian IAPI yang berbunyi : “Membina dan memupuk persaudaraan yang erat antara alumni dan antar alumni dengan almamaternya dalam kerjasama diberbagai bidang menuju suatu cita-cita yang luhur, yakni mencetak sarjana-sarjana muslim yang taat dan setia, serta berguna bagi agama, nusa dan tanah air.
Pembentukan IAPI dan pengurusnya, disahkan melalui Pelantikan dan Pengambilan Sumpah oleh Ketua DPP IMMIM, H. Fadeli Luran pada tanggal 25 Februari 1982/12 Rabiul Awal 1402 H. bertempat di Gedung Jiwa, Jl. Sungai Poso, Ujungpandang.
Pada saat bapak H. Fadeli Luran memberi sambutannya, beliau berkesempatan memberi saran kepada pengurus IAPIM, dengan alasan lebih mempermudah dan mempertegas suku kata singkatan dimaksud dan lebih memperindah penyebutannya. Dan waktu itu, pengurus menyetujui saran Bapak H. Fadeli Luran melalui rapat pengurus.

III. FASE PERGANTIAN KETUA UMUM

Periode kepengurusan Chaeruddin, SB untuk masa bakti dua tahun, tidak sempat berakhir. Mengingat pada waktu itu Chaeruddin, SB terpilih untuk mengikuti program pertukaran pemuda AFS ke Kanada. Maka pada tanggal 12 September 1982 (dua hari setelah Milad 1 IAPIM) diadakan pemilihan pergantian Ketua Umum untuk melanjutkan kepengurusan untuk masa bakti pertama kepengurusan. Dan pada waktu itu, M. Amir Mahmud dipilih secara aklamasi melalui penetapan Surat Keputusan Nomor :005/IAPIM/1982 tertanggal 12 September 1982M/ 24 Zulqaidah 1401 H.

IV. IAPIM DARI FASE KE FASE

Pada dasarnya, IAPIM dari fase pembentukannya hingga fase kepengurusannya dari taun 1981 hingga periode kepengurusan tahun 1990 (10 tahun kepengurusan IAPIM) Bertujuan antara lain :
1. Menghimpun pemikiran dan pendapat dari para anggotanya dalam merumuskan permasalahan dan pencegahan diberbagai bidang, khususnya di bidang sosial, keagamaan dna kemasyarakatan yang senantiasa bertupmu pada cerita almamaternya sebagai produknya.
2. Menghimpun pemikiran dan kemauan para anggotanya untuk mencari pola agar sistem pembinaan dan pemupukan ukhwah yang Islami sesama alumni tetap terjaga dna lestari, terkait pula mengidentifikasi beberapa permasalahan almamaternya serta
kemasayarakatan. Sehingga tercapai ‘bersatu dalam Aqidah, Toleransi Furu’ dan Khilafah’.
3. Melakukan telaah terhadap berbagai dimensi, agar nilai keilmuan dan identitas para alumnus Pesantren IMMIM, yang terikat dalam IAPIM, tetap utuh dan terjaga, dimana landasan pijaknua senantiasa tetap pada Al-Quran dan Sunnah Nabi, serta pemeliharan ‘Indepensi IAPIM sebagai Organisasi Sosial Kemasyarakatan.

V. ARAH DAN ORIENTASI MENDEPAN IAPIM

Arah kebijaksanaan IAPIM, sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, intinya termaksud pada Anggaran Dasar IAPIM, pasal 4 yakni berbagi tiga tujuan, yakni : (1) Membina, (2) Menepuk, Khuwah Islamiah dan (3) terwujudnya masyarakat islami yang di ridhoi Allah SWT.
Refleksi dan Aksi merupakan dua hal yang selama ini diupayakan IAPIM dalam keikutesertaannya dalam pembanguna bangsa sebagai perwujudan dari kesadaran eksistensial. Refleksi akan membawa kepada kesadaran anggota IAPIM tentang kekuatan dan kelemahan diri. Sedangkan aksi mengandung arti pendayagunaan kekuatan dan pengurangan kelemahan itu dalam menghadapi masalah dan rintangan yang akan sedang muncul.
Bagi IAPIM sendiri, telah dapat dikatakan mampu, telah dapat dikatan mampu mensejajarkan diri dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan, khususnya keikutsertaannya berpartisipasi dalam pegabdian sosial dan pembangunan IAPIM, kehadirannya bisa sangat positif bagi perkembangan wawasan kebangsaan. Oleh karena agama Islam menurut Hakekatnya adalah agama universal untuk semua, sehingga cita-cita daripada IAPIM sendiri, bagaimana menciptakan ‘masyarakat yang islami yang diridhai Allah SWT’.
IAPIM sejak masa orde baru, memasuki era baru dengan tantangan baru. Tidak pernah mengutamakan kelompoknya saja dan mengembangkan “egoisme – sosial” IAPIM turut ambil bagian dalam pembangunan dengan semangat dan hakikat islam itu sendiri, sehingga di era globalisasi dan tantangannya yang bersifat global, sudah selayaknya apabila IAPIM memperkuat posisinya sebagai wahana pengembangan wawasan kebangsaan, keilmuan dan keagamaan di Indonesia.

VI. TAKTIK DAN STRATEGI MENDEPAN IAPIM

Perumusan Tri Konsep IAPIM, merupakan tantangan bagi para anggotanya. Dalam hal ini komitmen ikatan dan Ukhuwah (persatuan), ditantang untuk menghadirkan konsep etika keagamaan yang dapat menciptakan ‘masyarakat Islami yang diridhai Allah SWT’.
Dalam rangka perwujudan kultur persatuan dan kesatuan, bagi IAPIM meng-agendakan, bagaimana ditemukan etika keagamaan yang dapat mendorong umat berbagai agama ditanah air kita ini, dpaat hidup berdampingan dengan rukun dan damai.
IAPIM dituntu memperoleh posisi dan peran kedepan dalam konfigurasi kemajemakan bangsa. Kemudian, yang tidak kalah pentingnya, adalah dirumuskannya peran serta IAPIM dalam mensukseskan proses pembangunan nasional dan memperkuat integrasi nasional.
IAPIM dituntut memperoleh posisi dan peran kedepan dalam konfigurasi kemajemakan bangsa. Kemudian, yang tidak kalah pentingnya, adalah dirumuskannya peran serta IAPIM dalam mensukseskan proses pembangunan nasional dan memperkuat integrasi nasional. Selanjutnya, IAPIM dalam menata dirinya kedepan dalam kaitannya dengan upaya kita mengantisipasi berbagai tantangan dan permasalahan masa depan yang mungkin lebih kompleks, sangat diperlukan integritas keanggotaan terhadap IAPIM itu sendiri. Oleh karena itu, upaya-upaya IAPIM untuk merakit gagasan-gagasan yang bersifat strategis, responship dan aplikatif merupakan suatu kemestian. Upaya ini perlu ditradisikan ditingkatkan terus di masa datang
Sebagai organisasi yang terus maju dan berkembang, IAPIM dihadapkan pada sejumlah kerja besar yang peruh kendala. Semua kendala itu hanya mungkin disingkirkan jil a seluruh potensi anggota bersatu padu menghadapinya. Dengan bersatu padu dan prinsip “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Insya Allah tidak akan ada satupun kesulitan yang tidak dapat diatasi. Seluruh anggota IAPIM harus menyadari kedudukannya sebagai hamba Allah SWT dan peranannya sebagai warga negara Republik Indonesia. Hanya dengan menyadari IAF IM dapat memaksimalkan pengabdiannya, menjawab ini dengan merumuskan dan mengembangkan pemikiran-pemikiran strategis sekaligus mengikhtiarkan pemecahan masalah dalam skala lokal, regional, nasional dan global.

VII. DI BIDANG KESEKRETARIATAN

Pada dasarnya, kondisi obyektif IAPIM dari tahun ke tahun dapat saja dilihat pada perkembangan organisasi di bidang kesekretariatan, Sebuah organisasi yang mau maju dan berkembang bahkan menjadi besar, senantiasa selalu diupayakan adanya perubahan-perubahan di bidang kesekretariatan, khususnya pada posisi mekanisme kerja dan keorganisasian. Perubahan-perubahan dimaksud, bukan berari organisasi itu mundur atau yang lazim diungkapkan, “setiap pergantian pengurus, ada juga perubahan” Padahal bagi IAPIM hal itu bukan limaksud Perubahan struktural organisasi, kesekretariatan maupun mekanisme kerja, senantiasa berpak pada kondisi obyektif dan kondisi IAPIM pada saat IAPIM berada di era mana. Jadi IAPIM senantiasa membaca kondisi mendepan
Untuk lebih mengetahui kondisi-kondisi obyektif IAPIM dalam set ap fasenya, maka dapat diterangkan sebagai berikut;
a. Pada tahun 1981 – 1987
(Musyawaran Kerja I dan II)
“Membina dan memupuk persaudaraan yang erat antara alumni dan antara alumni dengan almamaternya dalam kerjasama diberbagai bidang menuju suatu cita-cita yang luhur, yakni mencetak sarjana-sarjana muslim yang taat dan setia, serta berguna bagi agama, nusa, bangsa dan tanah air”.
b. Pada tahun 1987-1990
(Musyawarah Keria III dan IV)
“Membina dan memupuk persaudaraan antara alumni Pesantren IMMIM dan almamat ernya dalam rangka menciptakan generasi Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat yang Islam”
c. Pada tahun 1990 – 1992
(Musyawaran Kerja V)
“Membira dan memupuk ukhuwah Islamiah antara alumni dan almamaternya, serta masyarakat luas dalam rangka mewujudkan masyarakat yang diridhai oleh Allah Subahanahu Wata’ala”.
d. Pada tahun 1992
(Musyawarah Kerja VI)
“Membina dan menupuk ukhuwah Islamiah antara alunini dan almamaternya, serta masyarakat luas, demi tercapainya generasi Islam yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat Islami yang diridhai Allah SWT”.
e. Pada tahun 1993
(Musyawarah Besar VII).
“Menibinaan memupuk ukhuwah Islamiah antar alumni dan almamaternya, serta masyarakat luas, dem terwujudnya masyarakat Islami yang diridhai Allah SWT”
Sebagai catatan penjelasan atas terjadinya lima kali perubahan perumusan dari tujuan IAPIM tersebut antara lain :
 Karena tuntutan mendasar atas kondisi ideal IAPIM dan kondis eksternal yang senantiasa harus disaluti oleh IAPIM, termasuk didalamnya telah terjadinya tuntutan baru dalam skala internal IAPIM itu sendiri, disisi lain pula telah terjadinya perubahan-perubahan mendasar dalam ruang lingkup eksternal IAPIM
 Lahirnya, perumusan-perumusan redaksional yang lebih ringkas, tajam dan terarah yang dipandang sangat esensial dan ideal untuk dicapai, sehingga menunjukkan kedinamisasian IAPIM untuk memburu pencapaian tujuannya
Untuk lebih memperjelas dan mempertegas arah kebijaksanaan sebagaimana terakumulasi didalam rumusan tujuan IAPIM tersebut, maka sedapat mungkin dipetakan dalam Program Jangka Panjang 10 Tahunan IAPIM sebagai berikut
a. Tahap I : Tahun 1981 s/d 1990
Dititik beratkan pada sisi kuantitatif, yang penajamannya pada bidang keanggotaan, dan kealmamateran melalui hubungan kelembagaan antar anggota dan peran sertanya dalam pengembangan almamater.
b. Tahap II : Tahun 1991 s/d 1999
Dititik beratkan pada sisi kualitatif, yang penajamannya pada bidang kealmamateran dan kemasyarakatan, melalui pengembangan posisi peran anggotanya atas nama alman ternya bagi masyarakat luas.
c. Tahap III : Tahun 2000 s/d 2009
Dititik beratkan pada sisi kompetitif, yang penajan annya pad: bidang keanggotaan dan kemasyarakatan, melalui keterlibatan lembaga bersamaan anggotanya dalam peran-peran sosial kemasyarakatan.
Penyusunan dan penjabaran haluan kerja tahapan sepuluh tahunan diatas akan disusun pada setiap pelaksanaan Reuni Akbar, melalui penampungan aspirasi seluruh anggota yang disusun dalam bentuk Komunike Bersama. Sementara untuk penjabarannya dijabarkan pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)
Adapun penjabaran Tahap II (1991 s/d 1999) sebagai berikut:
a. Masa Bakti 1991-1992
Dititik beratkan pada penciptaan kewibawaan organisasi melalui peningkatan senioritas kepengurusan dengan mengarahkan peran pengabdian kepada almamater.
b. Masa Bakti 1993
Dititik beratkan pada penciptaan suasana yang kondusif pada organisasi secara kelembagaan melalui penyediaan perangka. sarana pendukung efektivitas dan aktivitas organisasi, dengan mengarahkan hubungan kelembagaan antar IAPIM dengan instans lainnya
c. Masa Bakti 1994-1995
Dititik beratkan pada penciptaan stabilitas organisasi melalui pemekaran struktural organisasi serta perumusan penjabarannya yang konsepsional, dengan mengarahkan sumber daya anggota dalam peran sosial kemasyarakatan
d. Masa bakti 1996-1997
Dititik beratkan pada penciptaan kesatuan pandang anggota terhadap organisasi berdasarkan arahan konsepsional yang ada, dengan mengarahkan sumberdaya anggota untuk membina almamaternya, dengan melakukan hubungan kerja kelembagaan dengan instansi lain untuk menyalurkan pendayaan sumber daya anggota dalam melakukan pengabdian sosial kemasyarakatan.
e. Masa Bakti 1998 – 1999
Dititik beratkan pada penciptaan suasana aktualisasi, otensi anggota dalam berbagai peluang dan kesempatan di tengah masyarakat, dengan tetap menjunjung nilai-nilai ukhuwah secara kelembagaan sebagai manifestasi dari dasar kealmamateran.
Penjabaran lebin lanjut dari haluan kerja masa bakti kepengurusan, akan disusun dalam bentuk butir-butir program kerja masa bakti kepengurusan, yang ditetapkan dalam Rapat Kerja Pengurus

VIII. PEMEKARAN STRUKTURAL ORGANISASI

Pemekaran struktural organisasi, dan non-struktural menjadi struktural, ditempuh melalui musyawarah Besar dimana pada mulanya !APIM hanya berdiri sendiri dan berkedudukan di Ujungpandang Maka se elah diadakan pemekaran tersebut, berubahlah dua struktural organisasi IAPIM, yaitu masing-masing
a. Struktura Kekuasaan
1. Musyawarah Besar (Mubes)
2. Musyawarah Wilayah (Muswil)
3. Musyawarah Daerah (Musda)
4. Musyawarah Lembaga Klausus (Muslem)
b. Struktural Kepemimpinan
1. Pengurus Pusat IAPIM
2. . IAPIM Koordinator Wilayah
3. . IAPIM Pengurus Daerah
4. Lembaga-lembaga khusus
Struktural Kekuasaan menganut asas Desentralisasi
Yakni setiar jenjang kekuasaan memiliki otonomi dengan tetap memiliki koordinasi haluan pada ketetapan Musyawarah Besar sebagai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi.
Struktural Kepemimpinan menganut asas: Kepemimpinan kolektif
Yakni setiap jenjang kepemimpinan memiliki tugas dan wewenang tersendiri, namun merupakan satu kesatuan kepengurusan dalam mengikat para alumnus Pesantren Modern IMMIM Putra dan Putri untuk mencapai tujuannya.Pemekaran struktural organisasi, terjadi atas dasar pertimbangan:
a. Semakin membengkaknya jumlah anggota dan tersebarnya diberbagai tempat, sehingga terlalu sulit untuk menghimpunnya dalam satu jangkauan ikatan organisatoris yang hanya
berkedudukan di Ujungpandang, sehingga di perlukan suatu wadal: yang efektif dalam suatu bentuk ikatan organisatoris.
b. Dengan keberadaan wadah yang efektif tersebut, mengefektifkan pula pengfungsionalisasian sumber daya anggota ditengah masyarakat dimanapun mereka berada. Dengan demikian pula lebih mengefektifkan media jaringan komunikasi antar anggota itu sendiri.
c. Dengan terfungsionalisasikannya anggota tersebut, membuahkan cakrawala baru bagi fungsi “ukhuwah IAPIM yang memfitnah antara ukhuwah dalam arti personal alumni Pesantren IMMIM (Internal) dan ukhuwah dalam arti organisatoris IAPIM (Eksternal) yang memberi nantinya bebot ukhuw th antar anggota dan wibawa pengurus dan anggota, sehingga kebijakan-kebijakan IAPIM lebih bermuatan ganda.

IX. TRI KONSEPSI DAN NILAI IDENTITAS PENGABDIAN ANGGOTA

a. Tri Konsepsi
Tri Konsepsi IAPIM merupakan penjabarar. atas rumusan lari tujuan IAPIM yang termaktub di dalam Anggaran Dasar IAPIM Pasal 4, sebagai berikut :
“Membina dan memupuk ukhuwah Islamiah antar alumni dan almamaternya, serta masyarakat luas, demi terwujudnya masyarakat Islami yang diridhai Allah SWT”.
Jika dibuat dalam bentuk bagan adalah sebagaimana gambar berikut:



Dari untaian pemilihan inilah IAPIM akan melaksanakan tiga dimensi dasar penjabaran kebijaksanaannya, baik secara internal maupun eksternal, serta internal/eksternai, yang senantiasa dinafasi nilai-nilai ukhuwah islamiah untuk melakukan tugas kekhalifaan semata karena dari dan untuk All: asWT semata. Sebagai niat suci dari suatu bagian proses ibadah.
Pemilihan tiga dimensi dari Tri Konsepsi tersebut menghasilkan pula penegasan kebijakan-kebijakan dalam
bentuk:
a. Penyusunan komposisi personalia kepengurusan
b. Penyusunan program-program kerja kepengurusan
c. Penyusunan pengagendaan persuratan
d. Penyusunan job description
e. Evaluasi monitoring kegiatan dan haluan kerja.
f. Dan lain kebijakan organisasi yang bersifat internal dan eksternal
Dan lain kebijakan organisasi yang bersifat internal dan eksternal. an Anggota
Nilai identitas pengabdian anggota ini, sering disingkat NIPA, adalah berhaluan dari dasar motto IMMIM
“Bersatu Dalam Aqidah, Toleransi Dalam Fure’ dan Khilafiah”
Motto ini menjadi landasan pijak Bapak Alm.h. Fadeli Luran untuk mendirikan IMMIM. Dan sekaligus menjadi motto IMMIM itu sendiri, meskipun motto dimaksud merupakan titipan dari Buya HAmka sebagai guru sekaligus orang tua angkat dari Bapak Alm. H. Fadeli Luran.
Pesantren IMMIM yang didirikan oleh IMMIM sebagai lembaga yang memegang erat motto tersebut Sehingga di dalam sistem pembinaan bagi santrinya juga tetap berpedoman pada motto tersebut, sehingga itupun menjadi identitas keilmuan bagi para alumnus Pesantren Modern IMMIM baik putra maupun putri.
Untuknya, demi menjaga identitas akan nilai-nilai keilmuan bagi para alumnus Pesantren INIMIM yang terikat dalam IAPIM, dan demi menjaga identitas dari IAPIM itu sendiri
sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yangberlandaskan pada Al-Quran dan Sunnah Nabi, serta demi memelihara tatus “Independens” IAPIM, maka setiap anggota dalam wujud pengabdiannya secara organisatoris untuk senantiasa terikat pada motto tersebut.

X. PELAKSANAAN MUSYAWARAH KERJA

Musyawarah kerja merupakan kekuasaan tertinggi di LAPIM, dimana setelah terjadi perubahan struktur organisasi berganti nama menjadi musyawarah besar dengan waktu pelaksanaan sebagai berikut
A. Musyawarah Kerja 1 :17 November 1983 M/10 Shafar 1404 H
B. Musyawarah Keria II : 15 Desember 1985 M/03 Rabiul Awal 1408 H bertempat di Gedung
C. Musyawarah kerja III : 25 Desember 1987 M/04 Jumadil Awal 1408 H bertempat di Gedung Islamic Center IMMIM
D. Musyawarah Kerja IV : 31 Desember 1989 s/d 01 Januari 1990 bertempat di Gedung Islamic Center IMMIM
E. Musyawarah Kerja V : 30 s/d 31 Desember 1990 bertempat di Kampus Pesantren IMMIM Tamalanrea
F. Musyawarah Kerja VI : 30 s/d 31 Desember 1992 bertempat di Kampus Pesantren IMMIM Tamalanrea
G. Musyawarah Kerja/Besar VII : 29 s/d 31 Desember 1993 bertempat di Kampus Pesantren IMMIM Tamalanrea
H.Musyawarah besar VIIi : 29 s/d 03 Maret 1990 bertempat di Kampus Pesantren IMMIM Tamalanrea
I.  Musyawarah Besar IX : 19 s/d Februari 1998 di aulia mini IMMIM Ujungpandang 

XI. PERSONALIA PENGURUS

Komposisi personalia kepengurusan IAPIM dilengkapi dengan Pengurus Harian dan Pengurus Departemen, dengan Ketua Umum dan Sekretaris Umum/Sekretaris Jenderal berdasarkan masa bakti kepengurusan masing-masing
A. PENGURUS  IAPIM NON-STRUKTURAL
1. Masa bakti 1981 – 1983 : Chaeruddin SB/Amir Mahmud (Ketua Umum) ; Indra Diaya Mansyur (Sekretaris Umum)
2. Masa Bakti 1983 – 1985 :Anshar Ilyas (Ketua Umum) ; Nurzaman Razaq (Sekretaris Umum)
3. Masa Bakti 1985 – 1987 :Mappinawang (Ketua Umum) ; Nurzamien Razaq/Isra Matragengkeng (Sekretaris umum)
4. Masa Bakti 1987 – 1989 :Syamsul Bachri Salehima (Ketua Umum) ; Ahmad Faqih (Sekretaris Umum)
5. Masa Bakti 1989 – 1990 : Abend Kaharuddin Nasia (Ketua Umum) ; Sirajuddin Omsa (Sekretaris Umum)
6. Masa Bakti 1990 – 1992 : Indra Djaya Mansyur (Ketua Umum) ;  Harun Arsyad (Sekretaris umum)
7. Masa Bakti 1993 : Ahmad Fathanah Fadali (Ketua Umum) ;  Zulfikar Ahmad Ghaffar (sekretaris umum)
B. PENGURUS  IAPIM STRUKTURAL
Pengurus Pusat IAPIM
Masa Bakti 1994 – 1995 : Ahmad Fathanah Fadeli (Ketua Umum) ; Armin Mustamin Toputiri ( Sekretaris Umum)
Masa Bakti 1996 – 1997 : Irsyad Fachri Samad (Ketua Umum) ; Armin Mustamin Toputiri ( Sekretaris Umum)

IAPIM Koordinator Wilayah Indonesia Timur
Masa Bakti 1996 – 1997 : Wahyudin Abubakar (Ketua Umum) ; Mulyadi Murzali (Sekretaris Umum)
IAPIM Koordiunator Pulau Jawa
Masa Bakti 1996 – 1997 : Irfan Kamal (Ketua Umum) ; 

IAPIM Pengurus Daerah Ujungpandang
Masa Bakti 1994 – 1995 : Zubair Nasir/Ahmad Pandita (Ketua Umum) ; Mulyadi Murzali (Sekretaris Umum)
Masa Bakti 1995 – 1996 : Ahmad Pandita (Ketua Umum) ; Muh. Aqhsa Mustafa (Sekretaris Umum)
Masa Bakti 1996 – 1997 : Muh. Hasri Husain (Ketua Umum) ; Abd. Hadi Rachman (Sekretaris Umum)
IAPIM Pengurus Daerah Bone
Masa Bakti 1994 – 1995 : Abd. Aziz Yusuf (ketua Umum)
Rakiah Said (Sekretaris Umum)
IAPIM Pengurus Daerah Bulukumba
Masa Bakti 1994 – 1995 : A. Syamsul Darmawan (Ketua Umum) ; Munatzir Fachry (Sekretaris Umum)
IAPIM Pengurud Daerah Malang
Masa Bakti 1994 – 1995 : Muh. Farid Hamid (Ketua Umum) ; Ahsan Yahya (Sekretaris Umum)
Masa Bakti 1995 – 1996 : Maulana Ishak (Ketua umum) ; Ismali SM (Sekretaris Umum)
IAPIM Pengurus Daerah Yogyakarta
Masa Bakti 1994 – 1995 : Emil Akbar (ketua Umum) ; Muzdalifah MZ (Sekretaris Umum)
IAPIM Pengurusa Daerah Bandung
Masa Bakti 1994-1995 : Syahrani Rahim (Ketua Umum) ; Muchzen (Sekretaris Umum)
Masa Bakti 1995 – 1996 : Muchzen (Ketua Umum) ; Syahrani Rahim (Sekretaris Umum)
IAPIM Pengurus Daerah Ambon
Masa Bakti 1994 – 1996 : Irwan Tahir Manggala (Ketua Umum) ; : Abdul Hamid Halim (Sekretaris umum) ; 

XII. JUMLAH ANGGOTA

Anggota IAPIM terdiri dari :
a. Anggota Biasa, adalah mereka yang telah menammarkan pendidikannya di Pesantren Modern IMMIM dari tingkat Tsanawiyah sampai ke tingkat Aliyah
b. Anggota Luar Biasa, adalah mereka yang pernah mengikuti pendidikan di pesantren Modern IMMIM setidak-tidaknya satu tahun
c. Anggota Kehormatan, adalah mereka yang berjasa terhadap IAPIM yang ditetapkan melalui Musyawarah Besar.
Jumlah anggota luar biasa untuk sementara belum memiliki data yang lengkap, demikian juga anggota Kehormatan sampai saat ini belum ditetapkan, sedangkan anggota biasa berdasarkan tahun penamatan, sebagai berikut :
a. Angkatan I (1981) : Putra 20 Orang
Putri 12 Orang
b. Angkatan II : Putra 22 Orang
: Putri 4 orang
c. Angkatan III : Putra 18 Orang
: Putri 8 orang
d. Angkatan IV : Putra 40 Orang
: Putri 19 orang
e. Angkatan V : Putra 51 Orang
: Putri 34 Orang
f. Angkatan VI : Putra 76 Orang
: Putri 35 Orang
g. Angkatan VII : Putra 48 Orang
: Putri 37 Orang
h. Angkatan VIII : Putra 61 Orang
: Putri 48 Orang
i. Angkatan IX : Putra 73 Orang
: Putri 60 Orang
j. Angkatan X : Putra 63 Orang
: Putri 58 Orang
k. Angkatan XI : Putra 51 orang
: Putri 53 orang
l. Angkatan XII : Putra 50 Orang
: Putri 50 Orang

m. Angkatan XIII : Putra 46 Orang
: Putri 50 Orang
n. Angkatan XIV : Putra 66 Orang
: Putri 43 Orang
o. Angkatan XV (1995) : Putra 52 Orang
: Putri 51 Orang
Jumlah Putra 737 Orang
Putri 482 Orang
Total : 1219 Orang

 

XIII. LAIN-LAIN

Hal-hal yang belum terungkap dalam rangkuman ini dapat dilihat dalam buku hasil-hasil ketetapan Musyawarah Besar IAPIM
Demikian disusun untuk disebarkan pada seluruh anggota dan lainnya yang memiliki keterkaitan dengan IAPIM, sebagai bagian per sosialisasinya.
DISUSUN OLEH
Pengurus DPP IAPIM