Refleksi Jelang 32 Tahun IAPIM

Kreator : Ismail S Wekke

Keunikan Ikatan Alumni Pesantren IMMIM ketika didirikan saat 10 September 1981 adalah karena adanya keinginan untuk mewujudkan sebuah wadah silaturahmi. Kesamaan almamater bukan dikesampingkan tetapi dalam rangkaian mempertahankan persaudaraan yang dijalin selama menempuh pendidikan di Pesantren IMMIM. Dalam pertemuan yang berlangsung di Jl. Onta, Makassar dimana kediaman Amir Mahmud diputuskan untuk mengangkat Chaeruddin SB sebagai Ketua Umum dan Indra Jaya Mansyur sebagai Sekretaris Umum. Setelah pertemuan itu, pelantikan dilaksanakan di Gedung Jiwa, Jl. Sungai Poso dihadiri langsung Ketua Umum DPP IMMIM (Ikatan Masjid Mushallah Indonesia Muttahidah ), allahuyarham H. Fadeli Luran.

Di saat pelantikan itu, Ketua Umum DPP IMMIM menyarankan agar singkatan yang digunakan IAPIM ditambahkan dengan huruf M. Ini semata-mata untuk mempertegas pelafalan IMMIM. Setelah terpilihnya Chaeruddin SB untuk mengikuti program AFS ke Kanada, maka kepengurusan 1981-1983 dilanjutkan oleh Amir Mahmud dalam rapat yang dilaksanakan 12 September 1982.

Dari fragmen singkat keberadaan singkat organisasi IAPIM, maka perjalanan hingga hari ini sudah menjelang angka 32 Tahun. Jika itu ukuran manusia, maka sudah mulai memasuki tahapan dewasa awal. Tentu dengan keberadaan yang tidak bisa dikatakan singkat tentunya sudah ada pondasi bagi kelangsungan organisasi untuk menjadi wahana yang ditujukan ketika awal mula organisasi ini didirikan. Sebagai adaptasi dengan semakin berkembangnya jumlah alumni, maka melalui Musyawarah Kerja VII yang berlangsung 29 s.d. 31 Desember 1993 bertempat di Pesantren IMMIM memutuskan pemekaran organisasi dari nonstruktural yang hanya berbasis di Ujung Pandang menjadi struktural dengan pola Pengurus Pusat yang berkedudukan di Ujung Pandang dan Pengurus Daerah yang tersebar di berbagai daerah. Untuk koordinasi pengurus daerah tersebut yang berada di satu kesatuan wilayah dibentuk Koordinator Wilayah seperti Korwil Indonesia Timur, Korwil Jawa, dll.

Kegiatan terakhir yang dimotori Pengurus Pusat melalui bidang kealmamateran menggelar acara tahunan, Orientasi Anggota Baru IAPIM 2013. Kegiatan ini sekali lagi menjadi kesempatan untuk mempertahankan silaturahmi yang ada. Tidak sama sesame angkatan tetapi dengan angkatan mencapai 33 sudah menjadi keperluan agar alumni muda juga mengenal alumni sebelumnya, demikian pula sebaliknya. Dalam pembicaraan informal selama kegiatan yang berlangsung 26 s.d. 28 April 2013 tersebut kemudian muncul kegelisahan. Bagaimana organisasi yang mestinya didinamisir oleh anak-anak muda melalui Pengurus Daerah, tetapi kemudian tidak nampak peran serta dan keterlibatan dalam organisasi. Sudah bagus bahwa mereka kemudian berusaha menghadirkan acara seperti futsal tetapi Tri Konsepsi IAPIM tidak hanya berkisar pada seputar alumni atau anggota. Tetapi ada konsepsi lainnya yaitu almamater dan masyarakat luas.

Tri Konsepsi sebagai penjabaran yang tertuang dalam Anggaran Dasar yang menuliskan bahwa tujuan IAPIM sebagai berikut:

“membina dan memupuk ukhuwah islamiah antar alumni dan almamaternya, serta masyarakat luas, demi terwujudnya masyarakat islami yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala”. (Pasal 4 AD IAPIM).

Dari tujuan inilah kemudian ada tiga dimensi yang menjadi penjabaran kebijakan kepengurusan baik secara internal maupun eksternal dan juga kategori internal/eksternal dimana almamater merupakan bagian internal secara emosional tetapi secara keorganisasian adalah eksternal.

Dari pelbagai kebekuan yang ada selama ini, salah satu hal yang mungkin perlu dibangkitkan adalah pemahaman anggota akan Nilai Identitas Pengabdian Anggota (NIPA). NIPA merupakan penjabaran dari dasar motto IMMIM:

      
“bersatu dalam aqidah, tolerasi dalam furu dan khilafiah”

Walaupun ini bukan murni intisari landasan pijak yang berasal dari allahuyarham H. Fadeli Luran, tetapi kemudian IMMIM mengusung motto ini. Kalimat ini merupakan titipan Buya Hamka ketika bertugas di Makassar dan menjadi orang tua angkat allahuyarham H. Fadeli Luran. Maka pengabdian anggota melalui jalur organisasi IAPIM senantiasa terikat dengan NIPA yang menjadi kebijakan dasar organisasi.

Dinamisasi IAPIM harus dimulai dengan mengusung kembali nilai identitas tersebut sekaligus memberikan ruang diskusi kepada anggota bahwa pembentukan IAPIM tidak lain dan tidak bukan hanya karena silaturahmi adalah perintah agama. Dengan mempertahankan silaturahmi, maka urusan duniawi menjadi jaminan Allah. Ketika kemudian memberikan investasi waktu di IAPIM tidak secara langsung akan membantu jamaah masjid yang lain.

Sebagai akhir catatan ini, saya menyelesaiakan obrolan dengan  MIN tentang IAPIM. Saya menyalin obrolan ini sebagai apresiasi saya kepada MIN yang kerap bertanya kepada saya tentang Musyawarah Daerah waktu itu. Alhamdulillah, Musyawarah Daerah berhasil kita laksanakan 2011 dan diikuti dengan Pelantikan Pengurus Daerah Makassar periode 2011 – 2013. Namun, setelah hampir dua tahun berlalu, wujud dari pelantikan itu tidak terbentuk dalam Tri Konsepsi IAPIM. Untuk sementara ini pengurus telah mengabdikan banyak kesempatan tetapi hanya terfokus kepada futsal. Setiap tahun sudah dilangsungkan IAPIM Cup, namun demikian lahan pengabdian yang luas harus dijawab tidak saja dengan futsal.

ISW: assalamu alaikum

MIN: wa alaikum salam kanda

ISW: kawan2 dan saya gagal mendorong pengurus daerah iapim untu lebih baik…
kita sdh musda tapi bgt mi… tdk aktif ji juga lagi hanya futsal yg mampu dibuat

MIN: kita gak boleh putus asa kanda…trus berikan support kepada mereka

ISW: tidak putus asa, tetapi zaman yg berubah iyye…
anak2 muda sekarang lebih kepada kehidupan hedonis… nongkrong di cafe, nonton filem, jalan di mall… inovasi dan kreatifitas untuk berbuat sdh mulai ilang, jadi kita perlu melakukan refleksi kira2 pada bagian mana kita mendorong anak2 muda untuk berkreasi

MIN: iya kanda
tp semua itu harus disesuaikan dengan kondisi skrng…gak bisa kalau cara yang dulu yang kita terapkan untuk skrng
tinggal bagiaman caranya kita memberikan motivasi

ISW: mmmm cocokmi itu
kita perlu melakukan dinamisasi dgn cara sekarang lah

MIN: harus disesuaikan dengan kondisi

ISW: hanya saja… sekali lagi dunia berubah, anak muda tdk lagi berorientasi kpd iklim sosial…
semuanya diukur dengan materi

MIN: tetap kanda berorentasi ke iklim sosial
tp caranya skerng bdea
beda

ISW: iyye….
mungkin cara melihat sy yg beda… kalau sekarang ada ajakan atau undangan maka kalimat yg muncul “apa yg saya dapat???”….

MIN: mau lari kemana mereka kalau gak ke masyarakat nantinya
apa kanda?
bagaimana pun kondisinya skrng tetap basic pesantrenx ada kanda

ISW: tak apalah…. saya sampai pada kesimpulan “biarkan saja” paling tdk sudah berusaha dan mendorong musda, namun hasilnya seperti ini, tu juga sebuah hasil walau tdk diharapkan
hehehe
basic pest ada, tp pesantren apa dulu???
mudah2an bukan pesantren kilat

MIN: heheheheh
pesantren IMMIM lah kanda
ya cobalah lakukan moderenisasi kanda

ISW: aminnn…

MIN: lakukan cara yang baru untuk menyatukan kita kembali

ISW: iyye, ini tugas kita bersama… karena alumni immim dan anggota iapim bukan hanya Ismail ada ribuan anggota yg laen juga

MIN: yang satu prinsip organisai
iya kanda
termasuk sy jg

ISW: aminnn….

MIN: aminn

ISW: Yes judulnya ini chat “refleksi 32 tahun iapim”

X: iya kanda

ISW: hehehehe
slamat beraktivitas kembali, thanks sdh menemani sy chat
Chat Conversation End

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Refleksi Jelang 32 Tahun IAPIM”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/iswekke/5521007fa333116f4946cf94/refleksi-jelang-32-tahun-iapim?page=all

Kreator: Ismail Wekke

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Keunikan Ikatan Alumni Pesantren IMMIM ketika didirikan saat 10 September 1981 adalah karena adanya keinginan untuk mewujudkan sebuah wadah silaturahmi. Kesamaan almamater bukan dikesampingkan tetapi dalam rangkaian mempertahankan persaudaraan yang dijalin selama menempuh pendidikan di Pesantren IMMIM. Dalam pertemuan yang berlangsung di Jl. Onta, Makassar dimana kediaman Amir Mahmud diputuskan untuk mengangkat Chaeruddin SB sebagai Ketua Umum dan Indra Jaya Mansyur sebagai Sekretaris Umum. Setelah pertemuan itu, pelantikan dilaksanakan di Gedung Jiwa, Jl. Sungai Poso dihadiri langsung Ketua Umum DPP IMMIM (Ikatan Masjid Mushallah Indonesia Muttahidah ), allahuyarham H. Fadeli Luran.

Di saat pelantikan itu, Ketua Umum DPP IMMIM menyarankan agar singkatan yang digunakan IAPIM ditambahkan dengan huruf M. Ini semata-mata untuk mempertegas pelafalan IMMIM. Setelah terpilihnya Chaeruddin SB untuk mengikuti program AFS ke Kanada, maka kepengurusan 1981-1983 dilanjutkan oleh Amir Mahmud dalam rapat yang dilaksanakan 12 September 1982.

Dari fragmen singkat keberadaan singkat organisasi IAPIM, maka perjalanan hingga hari ini sudah menjelang angka 32 Tahun. Jika itu ukuran manusia, maka sudah mulai memasuki tahapan dewasa awal. Tentu dengan keberadaan yang tidak bisa dikatakan singkat tentunya sudah ada pondasi bagi kelangsungan organisasi untuk menjadi wahana yang ditujukan ketika awal mula organisasi ini didirikan. Sebagai adaptasi dengan semakin berkembangnya jumlah alumni, maka melalui Musyawarah Kerja VII yang berlangsung 29 s.d. 31 Desember 1993 bertempat di Pesantren IMMIM memutuskan pemekaran organisasi dari nonstruktural yang hanya berbasis di Ujung Pandang menjadi struktural dengan pola Pengurus Pusat yang berkedudukan di Ujung Pandang dan Pengurus Daerah yang tersebar di berbagai daerah. Untuk koordinasi pengurus daerah tersebut yang berada di satu kesatuan wilayah dibentuk Koordinator Wilayah seperti Korwil Indonesia Timur, Korwil Jawa, dll.

Kegiatan terakhir yang dimotori Pengurus Pusat melalui bidang kealmamateran menggelar acara tahunan, Orientasi Anggota Baru IAPIM 2013. Kegiatan ini sekali lagi menjadi kesempatan untuk mempertahankan silaturahmi yang ada. Tidak sama sesame angkatan tetapi dengan angkatan mencapai 33 sudah menjadi keperluan agar alumni muda juga mengenal alumni sebelumnya, demikian pula sebaliknya. Dalam pembicaraan informal selama kegiatan yang berlangsung 26 s.d. 28 April 2013 tersebut kemudian muncul kegelisahan. Bagaimana organisasi yang mestinya didinamisir oleh anak-anak muda melalui Pengurus Daerah, tetapi kemudian tidak nampak peran serta dan keterlibatan dalam organisasi. Sudah bagus bahwa mereka kemudian berusaha menghadirkan acara seperti futsal tetapi Tri Konsepsi IAPIM tidak hanya berkisar pada seputar alumni atau anggota. Tetapi ada konsepsi lainnya yaitu almamater dan masyarakat luas.

Tri Konsepsi sebagai penjabaran yang tertuang dalam Anggaran Dasar yang menuliskan bahwa tujuan IAPIM sebagai berikut:

“membina dan memupuk ukhuwah islamiah antar alumni dan almamaternya, serta masyarakat luas, demi terwujudnya masyarakat islami yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala”. (Pasal 4 AD IAPIM).

Dari tujuan inilah kemudian ada tiga dimensi yang menjadi penjabaran kebijakan kepengurusan baik secara internal maupun eksternal dan juga kategori internal/eksternal dimana almamater merupakan bagian internal secara emosional tetapi secara keorganisasian adalah eksternal.

Dari pelbagai kebekuan yang ada selama ini, salah satu hal yang mungkin perlu dibangkitkan adalah pemahaman anggota akan Nilai Identitas Pengabdian Anggota (NIPA). NIPA merupakan penjabaran dari dasar motto IMMIM:

      
“bersatu dalam aqidah, tolerasi dalam furu dan khilafiah”

Walaupun ini bukan murni intisari landasan pijak yang berasal dari allahuyarham H. Fadeli Luran, tetapi kemudian IMMIM mengusung motto ini. Kalimat ini merupakan titipan Buya Hamka ketika bertugas di Makassar dan menjadi orang tua angkat allahuyarham H. Fadeli Luran. Maka pengabdian anggota melalui jalur organisasi IAPIM senantiasa terikat dengan NIPA yang menjadi kebijakan dasar organisasi.

Dinamisasi IAPIM harus dimulai dengan mengusung kembali nilai identitas tersebut sekaligus memberikan ruang diskusi kepada anggota bahwa pembentukan IAPIM tidak lain dan tidak bukan hanya karena silaturahmi adalah perintah agama. Dengan mempertahankan silaturahmi, maka urusan duniawi menjadi jaminan Allah. Ketika kemudian memberikan investasi waktu di IAPIM tidak secara langsung akan membantu jamaah masjid yang lain.

Sebagai akhir catatan ini, saya menyelesaiakan obrolan dengan  MIN tentang IAPIM. Saya menyalin obrolan ini sebagai apresiasi saya kepada MIN yang kerap bertanya kepada saya tentang Musyawarah Daerah waktu itu. Alhamdulillah, Musyawarah Daerah berhasil kita laksanakan 2011 dan diikuti dengan Pelantikan Pengurus Daerah Makassar periode 2011 – 2013. Namun, setelah hampir dua tahun berlalu, wujud dari pelantikan itu tidak terbentuk dalam Tri Konsepsi IAPIM. Untuk sementara ini pengurus telah mengabdikan banyak kesempatan tetapi hanya terfokus kepada futsal. Setiap tahun sudah dilangsungkan IAPIM Cup, namun demikian lahan pengabdian yang luas harus dijawab tidak saja dengan futsal.

ISW: assalamu alaikum

MIN: wa alaikum salam kanda

ISW: kawan2 dan saya gagal mendorong pengurus daerah iapim untu lebih baik…
kita sdh musda tapi bgt mi… tdk aktif ji juga lagi hanya futsal yg mampu dibuat

MIN: kita gak boleh putus asa kanda…trus berikan support kepada mereka

ISW: tidak putus asa, tetapi zaman yg berubah iyye…
anak2 muda sekarang lebih kepada kehidupan hedonis… nongkrong di cafe, nonton filem, jalan di mall… inovasi dan kreatifitas untuk berbuat sdh mulai ilang, jadi kita perlu melakukan refleksi kira2 pada bagian mana kita mendorong anak2 muda untuk berkreasi

MIN: iya kanda
tp semua itu harus disesuaikan dengan kondisi skrng…gak bisa kalau cara yang dulu yang kita terapkan untuk skrng
tinggal bagiaman caranya kita memberikan motivasi

ISW: mmmm cocokmi itu
kita perlu melakukan dinamisasi dgn cara sekarang lah

MIN: harus disesuaikan dengan kondisi

ISW: hanya saja… sekali lagi dunia berubah, anak muda tdk lagi berorientasi kpd iklim sosial…
semuanya diukur dengan materi

MIN: tetap kanda berorentasi ke iklim sosial
tp caranya skerng bdea
beda

ISW: iyye….
mungkin cara melihat sy yg beda… kalau sekarang ada ajakan atau undangan maka kalimat yg muncul “apa yg saya dapat???”….

MIN: mau lari kemana mereka kalau gak ke masyarakat nantinya
apa kanda?
bagaimana pun kondisinya skrng tetap basic pesantrenx ada kanda

ISW: tak apalah…. saya sampai pada kesimpulan “biarkan saja” paling tdk sudah berusaha dan mendorong musda, namun hasilnya seperti ini, tu juga sebuah hasil walau tdk diharapkan
hehehe
basic pest ada, tp pesantren apa dulu???
mudah2an bukan pesantren kilat

MIN: heheheheh
pesantren IMMIM lah kanda
ya cobalah lakukan moderenisasi kanda

ISW: aminnn…

MIN: lakukan cara yang baru untuk menyatukan kita kembali

ISW: iyye, ini tugas kita bersama… karena alumni immim dan anggota iapim bukan hanya Ismail ada ribuan anggota yg laen juga

MIN: yang satu prinsip organisai
iya kanda
termasuk sy jg

ISW: aminnn….

MIN: aminn

ISW: Yes judulnya ini chat “refleksi 32 tahun iapim”

X: iya kanda

ISW: hehehehe
slamat beraktivitas kembali, thanks sdh menemani sy chat
Chat Conversation End

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Refleksi Jelang 32 Tahun IAPIM”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/iswekke/5521007fa333116f4946cf94/refleksi-jelang-32-tahun-iapim?page=all

825 thoughts on “Refleksi Jelang 32 Tahun IAPIM”

  1. Cuando olvide la contraseña para bloquear la pantalla, si no ingresa la contraseña correcta, será difícil desbloquear y obtener acceso. Si descubre que su novio / novia sospecha, es posible que haya pensado en piratear su teléfono Samsung para obtener más pruebas. Aquí, le proporcionaremos la mejor solución sobre cómo descifrar la contraseña de un teléfono móvil Samsung.

  2. I simply couldn’t leave your web site prior to suggesting
    that I actually loved the usual info a person provide on your visitors?
    Is going to be back frequently in order to check up on new posts

    Take a look at my web page ::

  3. PBN sites
    We’ll establish a structure of self-owned blog network sites!

    Pros of our privately-owned blog network:

    We perform everything SO THAT Google doesn’t understand THAT this A PBN network!!!

    1- We obtain domains from distinct registrars

    2- The leading site is hosted on a virtual private server (Virtual Private Server is high-speed hosting)

    3- Additional sites are on various hostings

    4- We designate a separate Google account to each site with confirmation in Search Console.

    5- We design websites on WP, we don’t utilise plugins with aided by which Trojans penetrate and through which pages on your websites are generated.

    6- We don’t duplicate templates and utilize only exclusive text and pictures

    We do not work with website design; the client, if desired, can then edit the websites to suit his wishes

  4. PBN sites
    We shall generate a structure of self-owned blog network sites!

    Advantages of our private blog network:

    We execute everything SO THAT google does not grasp THAT THIS IS A private blog network!!!

    1- We purchase domain names from various registrars

    2- The primary site is hosted on a VPS hosting (VPS is high-speed hosting)

    3- The remaining sites are on distinct hostings

    4- We designate a separate Google account to each site with verification in Google Search Console.

    5- We make websites on WordPress, we do not employ plugins with assisted by which Trojans penetrate and through which pages on your websites are produced.

    6- We never duplicate templates and use only individual text and pictures

    We never work with website design; the client, if desired, can then edit the websites to suit his wishes

  5. There are some attention-grabbing deadlines in this article however I don’t know if I see all of them center to heart. There may be some validity however I’ll take hold opinion till I look into it further. Good article , thanks and we would like more! Added to FeedBurner as well

  6. Rolex watches
    Understanding COSC Validation and Its Importance in Watchmaking
    COSC Accreditation and its Strict Standards
    Controle Officiel Suisse des Chronometres, or the Controle Officiel Suisse des Chronometres, is the official Swiss testing agency that certifies the precision and accuracy of timepieces. COSC certification is a symbol of superior craftsmanship and reliability in timekeeping. Not all timepiece brands pursue COSC validation, such as Hublot, which instead follows to its proprietary stringent criteria with movements like the UNICO, achieving equivalent precision.

    The Science of Precision Timekeeping
    The core mechanism of a mechanized timepiece involves the mainspring, which supplies power as it unwinds. This mechanism, however, can be vulnerable to external elements that may affect its accuracy. COSC-accredited mechanisms undergo demanding testing—over fifteen days in various conditions (five positions, three temperatures)—to ensure their durability and dependability. The tests measure:

    Mean daily rate accuracy between -4 and +6 seconds.
    Mean variation, peak variation levels, and impacts of thermal variations.
    Why COSC Accreditation Is Important
    For timepiece aficionados and connoisseurs, a COSC-certified timepiece isn’t just a item of tech but a demonstration to lasting excellence and precision. It symbolizes a timepiece that:

    Provides outstanding dependability and accuracy.
    Ensures assurance of quality across the complete design of the watch.
    Is likely to retain its value better, making it a smart choice.
    Famous Timepiece Brands
    Several renowned brands prioritize COSC certification for their watches, including Rolex, Omega, Breitling, and Longines, among others. Longines, for instance, presents collections like the Archive and Soul, which feature COSC-accredited mechanisms equipped with innovative materials like silicone equilibrium suspensions to improve resilience and performance.

    Historic Context and the Development of Chronometers
    The concept of the timepiece originates back to the need for exact timekeeping for navigation at sea, emphasized by John Harrison’s work in the 18th cent. Since the official establishment of Controle Officiel Suisse des Chronometres in 1973, the certification has become a yardstick for assessing the accuracy of luxury watches, sustaining a tradition of superiority in horology.

    Conclusion
    Owning a COSC-certified timepiece is more than an aesthetic choice; it’s a dedication to excellence and accuracy. For those valuing accuracy above all, the COSC certification provides peacefulness of mind, guaranteeing that each accredited watch will function dependably under various circumstances. Whether for individual contentment or as an investment decision, COSC-validated timepieces distinguish themselves in the world of horology, maintaining on a legacy of meticulous timekeeping.

  7. Understanding COSC Accreditation and Its Importance in Horology
    COSC Accreditation and its Demanding Standards
    Controle Officiel Suisse des Chronometres, or the Official Swiss Chronometer Testing Agency, is the authorized Swiss testing agency that verifies the accuracy and precision of wristwatches. COSC accreditation is a sign of quality craftsmanship and trustworthiness in timekeeping. Not all watch brands seek COSC accreditation, such as Hublot, which instead follows to its own stringent criteria with mechanisms like the UNICO calibre, achieving similar precision.

    The Art of Precision Timekeeping
    The core mechanism of a mechanized timepiece involves the spring, which provides energy as it unwinds. This system, however, can be susceptible to environmental elements that may impact its precision. COSC-accredited mechanisms undergo demanding testing—over fifteen days in various conditions (5 positions, 3 temperatures)—to ensure their resilience and reliability. The tests assess:

    Typical daily rate accuracy between -4 and +6 seconds.
    Mean variation, peak variation rates, and effects of thermal variations.
    Why COSC Validation Is Important
    For watch fans and collectors, a COSC-certified timepiece isn’t just a piece of tech but a testament to enduring quality and accuracy. It symbolizes a watch that:

    Offers excellent dependability and precision.
    Offers guarantee of superiority across the complete construction of the timepiece.
    Is probable to retain its worth more efficiently, making it a wise choice.
    Popular Chronometer Manufacturers
    Several well-known brands prioritize COSC accreditation for their timepieces, including Rolex, Omega, Breitling, and Longines, among others. Longines, for instance, presents collections like the Record and Soul, which highlight COSC-accredited mechanisms equipped with advanced substances like silicon equilibrium suspensions to improve durability and performance.

    Historical Context and the Development of Timepieces
    The concept of the timepiece originates back to the need for exact chronometry for navigational at sea, highlighted by John Harrison’s work in the eighteenth century. Since the formal foundation of Controle Officiel Suisse des Chronometres in 1973, the accreditation has become a standard for judging the accuracy of high-end timepieces, maintaining a legacy of excellence in horology.

    Conclusion
    Owning a COSC-accredited watch is more than an aesthetic selection; it’s a dedication to excellence and accuracy. For those appreciating precision above all, the COSC validation offers peacefulness of thoughts, guaranteeing that each certified timepiece will function reliably under various conditions. Whether for personal contentment or as an investment, COSC-validated watches stand out in the world of watchmaking, bearing on a legacy of careful timekeeping.